Resonansi Penyair Merapi

GENDHOTWUKIR, penikmat puisi dan sajak dari Komunitas Merapi. Sajak-sajak berikut adalah sajak-sajaknya yang telah terbit di media cetak, situs-situs internet dan sajak-sajak yang terbaru. Saat ini ia terus bergulat dengan eksperimennya yang terus berkelanjutan untuk pencapaian estetika poetik yang maksimal.

Mein Foto
Name:
Standort: Bonn Germany - Magelang Indonesia, NRW - JATENG, Germany

Lahir di sebuah desa udik di Lereng Gunung Merapi yang bernama Desa Gemer, Ngargomulyo, Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Hobi membaca, menulis dan memotret untuk dipublikasikan di media cetak. Pendiri dan moderator milis Komunitas Merapi dan Jaringan Katolik Liberal. Lauk kesukaannya yaitu ikan asin. Ada ikan asin, ada kenangan susahnya perjuangan mencari ikan asin saat di Eropa. Saat ini suka bolak-balik Magelang-Yogya karena alasan studi. Sajak dan tulisan-tulisannya tersiar di sejumlah media cetak, elektronik dan internet di Indonesia dan di luar negeri seperti Hongkong, Belanda dan Jerman.

Mittwoch, Januar 11, 2006

Detik Purnama



Benarkah Kau mengerti kembalinya bulan jingga?
Di bawah pengertian malam yang suram tiada cakap ria
Aku berdiri di atas awan yang goyah
Di tengah galaksi yang menawan aku gundah
Tentu saja, aku menjadi ngeri dengan hampa
Seorang diri menantang dewa kematian di tengah telaga

Lalu aku terbang ke arah timur
Menjemput purnama yang tertatih menerjang mega
Purnama, mengapa kau pucat pasi setelah bermil-mil pulas tertidur?
Kita telah mengerti perjalanan ini bukan kehendak kita
Kebodohan adalah perjalanan kita
Mengarungi tobat yang sia-sia

Bukan karena cinta kau bersamaku dalam maut
Kau kebetulan hadir menjemput
Pada saat aku meremang di sudut batin

Getaran yang Kau abdikan kepadaku itu adalah cinta ibuku
Sayang, aku telah kabur dengan cinta kawan
Siapa Dia, aku tidak tahu
Mungkin, Dia juga hanya kebetulan bersamaku
Dan Kau tak peduli ketikaku melupakannya semusim lalu

Ya, kau bilang kini aku telah murtad
Kau begitu yakin aku telah gila
Padahal aku bisa saja menuduhmu lebih gila
Sementara aku menarik benang yang ruwet, kau hanya tersenyum kesumba
Jangan-jangan kita selama ini terlalu gigih mempertahankan makna hidup bersama
Sehingga ketika aku suka menyendiri memainkan melodi kehidupanku di bawah palma, kau tersenyum sinis, mengataiku Gila, murtad

Ya, Kau bisa bilang aku gila, tapi aku tak peduli
Mungkin aku menikmati kegilaanmu
Yang senyatanya adalah buah pengetahuan yang sedang aku rengkuh
Aku tak mau sudi mendengarkan kata-katamu yang tak berujung,
Mengeja tetek-bengek ajaran guru tanpa peduli dengan Mbah Sukri

Ya, Mbah Sukri yang itu, lho
Tergesa menyeret anaknya yang masih perawan pergi ke pasar brambang
Tak peduli dengan kebijaksanaan yang Kau cecar
Menjaring hidup yang kadang nanar
Karena perjalanannya adalah perjalanku yang tak peduli dengan akhir.

Malang, 291102


0 Kommentare:

Kommentar veröffentlichen

Abonnieren Kommentare zum Post [Atom]

Links zu diesem Post:

Link erstellen

<< Startseite


Free shoutbox @ ShoutMix