Resonansi Penyair Merapi

GENDHOTWUKIR, penikmat puisi dan sajak dari Komunitas Merapi. Sajak-sajak berikut adalah sajak-sajaknya yang telah terbit di media cetak, situs-situs internet dan sajak-sajak yang terbaru. Saat ini ia terus bergulat dengan eksperimennya yang terus berkelanjutan untuk pencapaian estetika poetik yang maksimal.

Mein Foto
Name: Gendhotwukir (Johannes Sutanto de Britto)
Standort: Bonn Germany - Magelang Indonesia, NRW - JATENG, Germany

Lahir di sebuah desa udik di Lereng Gunung Merapi yang bernama Desa Gemer, Ngargomulyo, Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Hobi membaca, menulis dan memotret untuk dipublikasikan di media cetak. Pendiri dan moderator milis Komunitas Merapi dan Jaringan Katolik Liberal. Lauk kesukaannya yaitu ikan asin. Ada ikan asin, ada kenangan susahnya perjuangan mencari ikan asin saat di Eropa. Saat ini suka bolak-balik Magelang-Yogya karena alasan studi. Sajak dan tulisan-tulisannya tersiar di sejumlah media cetak, elektronik dan internet di Indonesia dan di luar negeri seperti Hongkong, Belanda dan Jerman.

Freitag, Dezember 07, 2007

Pada Desember Kelabu


(Sriwijaya Post)


pada detik-detik itu

saat menjaga kelahiran baru

; tayangan layar kaca menjadi batu

pada mata-mata perdu, membelalak ragu

seperti udara di langit; terpaku, ungu-mengabu

berjejak di selembar aroma air mata bisu

; memburu haru

saat ditelan gelombang biru

semusim yang lalu

pada desember kelabu


jerman, desember 2005



Requiem Musim Gugur Telah Berguguran


(Khazanah, Pikiran Rakyat)

* Buat Kang Maroeli Simbolon yang sedang terbaring

tangismu telah berguguran
jatuh bersama geriap angin dingin dan
kemuning daun masa kemekaran
di antara tangan-tangan generasi pemujaan

engkau tidaklah sendirian
: di atas ranjang rentan
: malam panjang
: derita gentayangan
: jiwa mengerang

tengoklah fajar: ada badai
kewajiban belumlah usai
sebelum ada damai
juga martabat manusia membuai

kawan,
requiem musim gugur telah berguguran
semalam di atas kering rerumputan
lesap di celah bulan
maka beranjaklah segera; tengok di celah ranting pepohonan

Jerman, 25 November 2005


Saat Perpisahan

(Harian BorneoNews)

ada yang sengaja ingin kau lupakan

saat meninggalkan kota ini

malam terakhir, ciuman membuta

seusai botol-botol bir kosong berderakan

tanpa harap dan janji

sesaat saja

musim dingin di stasiun kereta

menggiurkan kata-kata

pada beku salju dan diam terpaku

ciuman terakhirmu

lesap di lesung pipi

awan yang gagu

menolak setuju

pergi selamanya ke negeri kincir angin

: menggagalkan anak datang ke dunia

melupa ikatan cinta buta

hingga kucuran kata-kata

dan pendar sakit hati meraja

kau pendam bersama laju kereta


Belanda- Lereng Merapi, 06-07

Mittwoch, Dezember 05, 2007

Sebuah Kota yang Terlupakan

(Suara Pembaruan)


pepohonan menghilang

ranggas gedung tua

angin bermandikan bara api

yang keluar dari pantat motor

adalah tatapan kosong

asa pada jejak-jejak nisan

menyematkan sesal di riuh kabut

sesengit

hujam tatapan menelan surya

sepanjang sungai nanah

suntuk yang terlupakan

oleh secawan kopi

liar menengadah dan membelah malam

dinding muram

sepucat langit tanpa jendela

pekat hujat jerat

awan bermuarakan hamparan lumut

nadi pada seutas rafia

berujung pada waktu punah

hari ini

di sebuah kota yang terlupakan


Yogyakarta, 2007


Perjalanan Pulang

(Batam Pos)

1./
aku pulang
seiring hingar yang luruh di batubatu bisu
mengekalkan penglihatan buru waktu
tanah yang tergadaikan. serupa kota mati
ditinggalkan para pengelana. tidak berbeda
(bukitbukit terus mengabadikan sunyi)
serupa memendam amarah dari purbakala
karena orangorang berjajar menggemakan tubuh
semarak batubatu jalanan berguguran di keningnya
; maut yang tergadai usai membelai
dan raung motor memburu kalimat; sambil memadamkan katakata
waktu yang terlupakan – seusai jejalan tujuan
kesadaran yang terlupakan oleh jalanan berlobang
seliweran tangantangan tengadah; wajah murah
lupa pulang ke rumah
kepenatan berumah di tanahtanah basah

2./
aku pulang
seiring parade ritual kematian
duka yang berguguran
karena kekekalan waktu tak menyisakan sepetak ingatan
ingatan pada waktu punah; hidup yang tak pernah berubah
(perempuanperempuan berjajar memundak sejarah)
kakinya melahirkan peluh yang terus mengaduh
(kayukayu bertengger di punggungnya)
pada perjalanan pulang
tak ada yang berubah dan membelah. waktu tak pernah punah
nubuat tak melahirkan isyarat
hikayat tak pernah menengadah sesah

3./
aku pulang
seiring anakanak berpetak umpetan. memetakan tujuan
akrapi pasrah diri
burai sakit hati
lalu tenggelam ke dasardasar bumi. bersamadikan nyanyi
bungabunga bertaburan. kuburan
entah ada yang berubah
(tubuh mentah dipalur katup peti)
sebab lumpurlumpur terus membubur
berderap pada pesta sesaji. aroma anyir di pematang dupa
mengantar ayat-ayat beterbangan. memenatkan
allah batukbatuk kelewatan

Komunitas Merapi, 2007



Aurora Kemarahan


(Kabar Indonesia)

Masuklah, ridna kekasihku! Di luar orang-orang mulai mengigau dan tak pedulikan genangan air matamu yang telah membibir itu. Selama angin masih membelaimu. Kenangkanlah bahwa kita hanya seonggok sampah yang tak akan pernah mengerti makna perjalanan ini. Biarlah orang-orang menebar badai lalu menguncinya di daun pintu. Amarah yang kau pendam tak akan menebarkan segerombolan penari dari selatan. Deburnya akan tetap mendarat di kening dan pada kata-kata yang bercabang saperti lidah ular.


Selayak musim yang terus berganti, kata-kata akan berubah seiring baju yang berganti dalam hitungan waktu dan hari. Mengertilah bahwa setiap kali ada titik hitam pada lembaran kain kafan yang putih itu. Kenangkanlah perjalanan ke depan. Setiap jejak selalu tertinggal di belakang punggung. Harapan selalu datang dan terpenuhi, atau kadang pergi juga bersama kawanan bangau menuju matahari terbenam.

Seusai keinginan yang tergapai, ada langkah ke depan. Setiap jejak yang tertinggal tak jarang meninggalkan amarah dan dendam. Tapi, masuklah segera ke dalam! Di luar hanya ada gempuran amarah. Duduklah di tungku ini dan bakarlah dendam dan amarah itu di baranya. Setiap kebusukan telah mendapatkan tempatnya dalam genangan angkara murka, entah kapan datangnya. Setiap kebohongan yang terungkap akan didatangi seribu pedang yang akan menghujamnya dan membawanya sampai ke kematian. Terkutuk sampai keturunanya. Duduklah segera di sisiku, kenangkan timangan ibumu yang tak akan pernah kau gadaikan itu.

2007



Free shoutbox @ ShoutMix